Bisnis Butuh Teknologi VR dan Simulasi, Pandemi COVID-19 Membuktikannya

VR dan simulasi berpotensi untuk mengubah cara orang-orang melakukan pekerjaannya. Perubahan ini terjadi dengan mengaktifkan kolaborasi jarak jauh menggunakan cara yang tidak mungkin dilakukan sebelumnya. Setidaknya hal ini yang diungkapkan oleh para ahli dalam diskusi tentang perusahaan dan “metaverse” di konferensi GamesBeat dengan tajuk “Driving Game Growth & Into the Metaverse. Diskusi tersebut mengeksplorasi mengenai bagaimana lingkungan virtual dapat memengaruhi industri.

Bagaimana Perubahan Itu Dapat Terjadi?

Richard Kerris, manajer umum industri untuk media dan hiburan di Nvidia, mengatakan bahwa saat ini terdapat peningkatan dalam penggunaan Omniverse. Omniverse merupakan platform cloud Nvidia yang dibuat untuk mendukung alur kerja dalam waktu nyata. Versi beta omniverse diluncurkan secara terbuka pada bulan Oktober 2020 lalu.

Christoph Fleischmann, seorang pendiri Arthur Technologies, mengatakan bahwa dia melihat potensi yang besar dari teknologi realitas virtual untuk perusahaannya. Di sana bahkan tersedia ruang kantor virtual yang memungkinkan tim untuk bertemu, berkolaborasi dan mengelola pekerjaan. Menggunakan teknologi tersebut, karyawan bisa berbagi ide, konsep, dan data dibandingkan dengan mengerjakan produk fisik. Hal ini membantu menjaga produktivitas karyawan sehingga tidak menurun, meski terpisah jarak secara fisik satu sama lain selama pandemi.

Statista memperkirakan bahwa pasar augmented dan virtual reality bisa mencapai 72,8 miliar USD pada tahun 2024. Hal itu bisa dicapai jika sebanyak 43,5 juta headset bisa terjual. Bentuk headset sendiri dianggap menjadi salah satu faktor penghalang untuk mengadopsi teknologi realitas virtual. Adanya perkembangan produk portabel dan terjangkau seperti Oculus Quest 2 dari Facebook dan Samsung Gear VR tentu menjadi titik terang yang memungkinkan prediksi di atas dapat terjadi.

Baca juga: Pemasaran Produk Melalui AR, Selamatkan Bisnis Anda di Masa Pandemi

Meski demikian, tampilan gambar yang realistis tetap menjadi tantangan utama untuk industri ini. Setelah teratasi, VR akan memberikan hubungan emosional yang tidak bisa dilakukan oleh video call. Dengan VR, pengguna akan terasa hadir dan bisa saling bertemu secara nyata.

Meski dengan berbagai kendala yang ada, Fleischmann optimis tentang realitas virtual di masa depan. Perusahaan mungkin akan menjadi kekuatan pendorong dalam adopsi VR yang bisa saja jauh lebih cepat dibandingkan game dan hiburan lain. Hal ini dikarenakan VR memiliki manfaat yang sangat besar untuk membantu perusahaan supaya tetap produktif dan dapat bekerja lebih efisien.

Bukan hanya itu, menurut laporan Pricewaterhouse Coopers di tahun 2019, terdapat 23 juta pekerjaan akan menggunakan VR dan simulasi digital pada tahun 2030.

Apakah Anda tertarik untuk menikmati manfaat luar biasa dari teknologi VR / AR di perusahaan Anda?

, , , , , , , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *